Tertimpa Musibah, Bersabarlah

sip

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٥﴾ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿١٥٦﴾ أُولَـٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ﴿١٥٧﴾

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk .” [QS. Al-Baqarah (2): 155-157]

Mengenai ayat di atas,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.”

Imam Ibnu Katsir ra. berkata, (pada ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menguji dan menempa para hamba-Nya. Terkadang (mengujinya) dengan kebahagiaan, dan suatu waktu dengan kesulitan, seperti rasa takut dan kelaparan. (Taisirul-Karimir-Rahman, Cet. I, Tahun 1423 H-2002M, Muassasah Risalah, halaman 76.)

Allah yang memberikan kita kenikmatan dan Allah yang memberi kita musibah. Memberi nikmat agar kita bersyukur dan memberi musibah agar kita sadar dan sabar. Barangsiapa bersabar, niscaya akan memperoleh pahala. Dan orang yang putus asa, akan ditimpa hukuman-Nya. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri ayat ini dengan berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِين

“(Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar)”.

Maksudnya, Allah memberikan kabar gembira atas kesabaran mereka. Pahala kesabaran tiada terukur. Akan tetapi, pahala ini tidak dapat dicapai, kecuali dengan kesabaran pada saat pertama kali mengalami kegoncangan (karena tertimpa musibah). (Al Jami li-Ahkamil-Qur`an, Tahqiq Abdur-Razzaq Mahdi, Cet. II, Th. 1420H-1999M, Maktabah Rusyd (2/170))

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kriteria orang-orang yang bersabar.

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu), orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.’”

Kalimat tersebut dikenal dengan istilah istirja’, yang keluar dari lisan-lisan mereka saat didera musibah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalimat itu sebagai sarana untuk mencari perlindungan bagi orang-orang yang dilanda musibah dan penjagaan bagi orang-orang yang sedang diuji. Karena kalimat itu mengandung makna yang penuh berkah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ‘Inna lillaahi’ mengandung nilai tauhid dan pengakuan penghambahaan diri, dan di bawah kepemilikan Allah. Sedangkan firman-Nya ‘wa innaa ilaihi rooji’uun’ mengandung makna pengakuan terhadap kehancuran yang akan menimpa manusia, dibangkitkan dari kubur, serta keyakinan bahwa segala urusan kembali kepada Allah. (Al Jami li Ahkamil-Qur`an (2/172))

أُولَـٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“(Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya).”

Betapa besar balasan kebaikan yang diperoleh orang-orang yang mampu bersabar, menahan diri dalam menghadapi musibah dari Allah, Dzat yang mengatur alam semesta ini.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada umatnya doa-doa perlindungan dari segala macam bencana dan kematian yang buruk. Diantaranya adalah doa yang diriwayatkan dari Abu Yasar Ka’ab bin Amru Al-Anshari, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ التَّرَدِّي وَالْهَدْمِ وَالْغَرَقِ وَالْحَرِيقِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, tertimpa runtuhan bangunan, tenggelam, dan kebakaran. Aku berlindung kepada-Mu dari dirasuki (dikuasai dan disesatkan) setan saat kematianku datang. Aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan melarikan diri dari medan perang di jalan-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari mati karena disengat binatang berbisa.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Al-Hakim. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’ As-Shaghir no. 12812. Adapun Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq Musnad Ahmad, 24/281-283 no. 15523-15524 menyatakan hadits ini lemah karena sanadnya mudhtarib)

Apa tanggapan antum?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s