Kajian Sabtu Sore : 28 April 2012

KitabullahMinggu lalu, Rohis Al-Uswah mengundang Ustadz Afifi Abdul Wadud untuk menyampaikan materi-materi dalam kajian Sabtu Sore. Kajian ini merupakan salah satu acara rutin yang di gelar oleh POH. Nah, di bawah ini terdapat ringkasan tentang materi yang dapat di baca.

Keutamaan Menuntut Ilmu

Ilmu merupakan dasar dari agama Islam. Seseorang yang mengaku beragama Islam namun tidak berilmu tentangnya, tentu tidak sempurna. Ibadah dan muamalah, yang merupakan aspek penting dalam Islam, tentu membutuhkan ilmu pengetahuan mengenai tata cara yang benar. Oleh karena itu, tidaklah heran jika dalam Islam, kita diwajibkan untuk menuntut ilmu.
Keutamaan ilmu juga ditunjukkan oleh Allah SWT. dalam Al-Qur’an. Salah satu diantaranya yaitu adalah hanya diajarkannya do’a meminta ilmu (dalam Surah Taahaa : 114) dan tidak diajarkannya untuk meminta yang lain, seperti harta. Hal ini menunjukkan keutamaan ilmu.

Dengan menuntut ilmu, maka kita akan dapat melaksanakan Islam secara lebih sempurna. Kesempurnaan tata cara beramal tentu mempengaruhi pahala dalam mengamalkan suatu amal. Hal ini berarti akan menjadi suatu tambahan kebaikan bagi orang yang beramal dengan ilmu.

Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihi Wassalam bersabda,”Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan pahamkan dia dengan ilmu agama” (HR. Al-Bukhari (71) dan Muslim (1037)).

Nabi SAW tidak mewariskan kecuali ilmu. Karena itu, orang yang dikatakan sebagai pewaris para Nabi ialah ulama (orang berilmu). Orang-orang yang mewarisi ilmu tersebut merupakan orang-orang yang adil, yang akan meluruskan orang-orang yang ghulu’ (berlebih-lebihan). Semakin dekat dengan akhir zaman, semakin banyak pula kejahiliyahan yang terjadi. Hanya para ulama yang dapat meluruskan kejahiliyahan tersebut.

Orang yang tidak mempunyai ilmu, tentu akan banyak melakukan kejahiliyahan. Banyak contoh kejahiliyahan yang terjadi ketika sebelum Rasulullah diutus. Bahkan, beberapa setelah Rasulullah diutus. Padahal kebodohan (Jahiliyah) adalah penyebab kebinasaan suatu kaum. Beberapa contoh kejahiliyahan yaitu.

  • Kebodohan Bani Israil

Bani Israil, umat nabi Musa alaihissalam, setelah menyeberangi laut merah. Mereka melewati suatu perkampungan. Di perkampungan tersebut, Bani Israil melihat sebuah berhala yang dipuja-puja masyarakat sekitar. Kemudian Bani Israil berbicara kepada Nabi Musa, kata mereka, “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan”

  • Sebuah hadist menuturkan sesuatu yang serupa :

Abi Waqid Al Laitsi menuturkan : “Suatu saat kami keluar bersama Rasululloh menuju Hunain, sedangkan kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam), disaat itu orang-orang musyrik memiliki sebatang pohon bidara yang dikenal dengan dzatu anwath, mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon tersebut, disaat kami sedang melewati pohon bidara tersebut, kami berkata : “Ya Rasululloh, buatkanlah untuk kami dzat anwath sebagaimana mereka memilikinya”. Maka Rasululloh ShallAllahu’alaihi wa Sallam menjawab,

“الله أكبر إنها السنن، قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو أسرائيل لموسى]اجعل لنا إلها كما لهم ءالهة، قال إنكم قوم تجهلون[ لتركبن سنن من كان قبلهم” رواه الترمذي وصححه.
“Allahu Akbar, itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian) demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, kalian benar-benar telah mangatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa :“Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan”, Musa menjawab : “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti (faham), kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.” (HR. Turmudzi, dan dinyatakan shoheh olehnya)

Contoh kebodohan (jahiliyah) umat di masa sekarang :

  •   Dandanan Mukminah

Allah telah mengingatkan kaum wanita muslim untuk menutupi aurat dan tidak berdandan dengan dandanan jahiliyah. Seperti yang terdapat pada Al-Qur’an surah Al-Ahzab : 59.

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Al-Ahzab : 59)

Juga Rasulullah pernah mengingatkan umat Islam, seperti pada sebuah hadist.

Rasululloh SAW bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Di dalam hadist di atas, disebutkan wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Kata-kata tersebut ditafsirkan berbeda-beda oleh para ulama, diantaranya yang paling kuat ialah

1. Wanita yang berpakaian tetapi tipis, sehingga nampak auratnya
2. Wanita yang berpakaian tetapi ketat, sehingga nampak auratnya
3. Wanita yang berpakaian tetapi terbuka, sehingga nampak auratnya
4. Wanita yang berpakaian tetapi minimalis, sehingga nampak auratnya

Kesimpulan dari bahasan di atas yaitu adalah orang-orang mukmin diwajibkan menuntut ilmu Karena ilmu merupakan dasar agama Islam itu sendiri. Dan kebodohan merupakan awal dari kebinasaan.

Tambahan :
1. Asked Question
a. Bagaimana cara menempatkan dakwah dengan halus dan keras?

Dakwah pada hakikatnya adalah mengajak ke jalan Allah SWT, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Modal dari dakwah itu sendiri merupakan kelembutan hati. Kelembutan hati inilah yang akan mengantarkan seseorang pada ketertarikan dan pada akhirnya (InsyaAllah) mendapatkan hidayah.

Rasulullah selalu mencontohkan dakwah dengan kelembutan hati. Sedangkan dengan sikap kasar hanya ada di beberapa hal yang itu mempunyai penjelasan tersendiri.

b. Apa yang dimaksud beribadah berlebihan? Seberapa batas berlebihan itu?

Ghulu’ atau berlebih-lebihan dalam beribadah maksudnya adalah beribadah tanpa mempertimbangkan perbuatan dzolim terhadap sesuatu yang lain. Contohnya adalah jika sholat tahajud sampai semalaman dan tidak tidur, artinya ibadah tersebut termasuk ghulu’ karena tidak mempertimbangkan hak badan.

Selain itu, ada juga audio -nya lho… Silakan klik di sini kalau mau mengunduhnya.

Semoga Bermanfaat.

Apa tanggapan antum?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s