Jalan Terbaik Untuk Lisanku

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Demi Zat yang telah melimpahkan butir-butir atom keni’matan dalam kehidupan ini, kumpulan atom yang telah disusun seindah-indahnya, dalam jumlah yang tak akan pernah bisa dihitung oleh manusia. Dan dengan nama Allah yang dengan mudahnya menghinakan dan merendahkan orang-orang yang Ia kehendaki. Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya 1, dan dalam keadaan yang baik pula.

Namun banyak manusia yang menafkahkan kesempurnaan bagian-bagian tubuhnya kepada jalan yang tidak diridhai oleh Allah Azza wa Jal. Sering kita temui orang-orang yang menggunakan kesempurnaan tangannya untuk mengambil yang bukan haknya. Sering kita temui orang yang diberikan kesempurnaan tubuh, namun dengan bahagianya menampakkan auratnya. Sering kita temui orang yang diberikan kesempurnaan pikiran, namun sayang ia tidak menggunakannya untuk menolong agama Allah yang telah sekian lama diinjak-injak yahudi dan konspirasi USA. Dan sering kita temui orang-orang yang menggunakan lisannya untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Memang benar lisan ini lebih tajam dari pedang, dan lebih sulit dijaga daripada menjaga seekor singa liar yang dilepaskan ke sebuah desa untuk tidak memakan manusia. Lalu apa yang harus kita lakukan dengan lisan ini? Apa yang harus dilakukkan untuk menjaganya?

Di dunia ini ada dua jenis perkataan. Yaitu sebuah perkataan yang dapat membuat orang yang mengatakannya diangkat ke derajat yang sangat tinggi di hadapan Allah dan sebuah perkataan yang dapat membuat orang yang mengatakannya diseret ke dalam neraka yang sangat pedih.

Lalu pernahkah antum menggunjing? ya, memang kegiatan yang sangat menyenangkan untuk  melampiaskan ketidaksenangan kita terhadap seseorang, sudah tidak diragukan lagi. eittsss, namun tau nggak ghibah (nggunjing) itu horror?

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah sebagian kalian menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuuraat: 12)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dan menyeru dengan suara yang lantang: “Wahai segenap manusia yang masih beriman dengan lisannya namun iman itu belum meresap ke dalam hatinya janganlah kalian menyakiti kaum muslimin. Dan janganlah melecehkan mereka. Dan janganlah mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya barang siapa yang sengaja mencari-cari kejelekan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengorek-ngorek kesalahan-kesalahannya. Dan barang siapa yang dikorek-korek kesalahannya oleh Allah maka pasti dihinakan, meskipun dia berada di dalam bilik rumahnya.” (Hadits ini tercantum dalam Shahihul Musnad, 1/508)

Di dalam Sunan Abu Dawud juga terdapat riwayat dari Anas bin Malik,

dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika aku dimi’rajkan aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga. Dengan kuku-kuku itu mereka mencakar-cakar wajah dan dada-dada mereka sendiri. Maka aku berkata: ‘Siapakah mereka itu wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang berani memakan daging-daging manusia serta menjatuhkan kehormatan dan harga diri orang lain’.” (Hadits ini Shahih) (Nashihati lin Nisaa’, hal. 26-27)

Nah seperti itulah akibat dari suka nghibah, suka menggunjing saudaranya “mereka mencakar-cakar wajah dan dada-dada mereka sendiri” dan mereka memakan bangkai saudaranya. Aku berlindung kepada Allah atas segala sesuatu yang akan mengantarkanku ke neraka. Terus risih nggak sih dengerin perkataan jorok? perkataan tercela dan umpatan? Teruss apakah Allah melarang mengumpat?

Ya, tentu saja Allah melarangnya. Langsung aja coba lihat surah Al Humazah, dari artinya aja udah kelihatan, “PENGUMPAT”. Dalam surah ini disebutkan bahwa kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Nah kalau udah jelas begitu kenapa dilakukan? nggak kasian sama diri sendiri?

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu bagaimana cara menggunakan lisan kita dengan benar?

Pernahkah antum berfikir untuk menggunakannya untuk membaca Qur’an daripada menggunakannya untuk bernyanyi? mengapa tidak menggunakannya untuk menasehati orang daripada menghibah? Mengapa tidak menggunakannya untuk menebar salam daripada mengumpat? ayolah kawan, sayangilah dirimu, sayangilah lisanmu agar kau nanti tak menyesal di kemudian hari, di hari dimana seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. Sedangkan pada saat itu kita semua sangat membutuhkan kebaikan yang pernah kita lakukan di dunia ini. Semoga Allah selalu melindungi hamba-hambanya yang senantiasa berbuat kebaikan di dunia ini.

 


 

 

1. Surah At Tiin ayat 4

5 thoughts on “Jalan Terbaik Untuk Lisanku

  1. [HANYA KOMENTAR CURHAT DARI SEORANG PENGEMBARA]
    Alhamdulillah…
    Pasukan iblis sukses menyesatkan masyarakat, Gembong FreeMason Yahudi dan anteknya berhasil menjajah lahir bathin negeri ini, krisis Inflasi harga kebutuhan pokok meningkat, Penyakit hubungan kelamin merajalela, Korupsi jamaah pejabat menanjak, Jual beli jabatan pemilu berlanjut, Pengurasan sumber daya alam berjalan, Kebodohan berbasis kemiskinan bertambah, dan masih banyak lagi yang semua itu berujung pada pemurtadan rakyat banyak.
    Alhamdulillah…
    Sekarang kita dapat melihat dengan jelas kebobrokan sistem sekular jahiliyah yang selama ini telah kita terapkan dan kita tuhankan, karena kita telah membuang jauh-jauh sistem Islam kaffah ciptaan “Sang Maha Pencipta Sistem” dari kehidupan kita.
    Alhamdulillah…
    Sekarang kita dapat membuktikan kebenaran sabda Nabi Muhammad berikut ini:
    Dari Abdullah bin Umar dia berkata,
    “Rasulullah SAW menghadapkan wajah ke kami dan bersabda:
    “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya;
    1. Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka.
    2. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.
    3. Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan diberi hujan.
    4. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya.
    5. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan saling memerangi di antara mereka.””
    (HR Ibnu Majah nomor 4009, lafal baginya, dan riwayat Al-Bazar dan Al-Baihaqi, shahih lighoirihi menurut Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib hadits nomor 1761).
    Sekarang manakah diantaranya yang belum terjadi? Masih belum cukup?
    Alhamdulillah…
    Selama generasi kita tidak memurikan tauhid dan tidak menerapkan sistem Islam kaffah (dalam khilafah), maka insyaAllah generasi penerus kita juga dapat langsung membuktikannya juga.
    Alhamdulillah…
    ________________
    “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. 4:147)
    “Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (Q.S. 40:61)

    1. Ya kau benar saudaraku, oleh karena itu marilah berdakwah, kitalah penerus agama ini. Walaupun kita tidak bisa membalik keadaan jadi 180 derajat, setidaknya kita bisa membuat segelintir orang kembali ke jalan yang diridhai Allah. Jazakallah wahai saudaraku.

Apa tanggapan antum?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s