Menilik Ketajaman Lisan Rasul – Tips Jadi Pendamping Hebat

Jika kita mau jujur, ada sensasi tersendiri dengan kalimat-kalimat berbahasa Arab. Utamanya Al-Qur’an dan hadits, karena itulah yang paling lekat dengan kita. Padatnya lafadz dengan mampatnya makna menghapus kebanggaan bahasa Indonesia terkadang boros kata-kata. Bukankah begitu? Coba rasakan perbedaan antara sebuah hadits dengan sebuah kalimat definisi berbahasa Indonesia. Biasanya, hadits padat, singkat, maknanya sungguh dalam. Sedangkan bahasa kita, terkesan menghambur kata-kata.

‘Ala kulli haal, para ulama’ telah menerangkan bahwa Rasul kita dikaruniai jamii’ul kalam. Ianya adalah istilah dari ulama’ bagi kemampuan istimewa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal kemampuan berbicara. Pembicaraan rasul sangat padat, ringkas, mudah diingat, serta fasih.

Di samping itu, bila kita kaji lebih jauh, dapat kita temukan harta karun mengagumkan untuk manajemen kata-kata. Benarlah demikian, karena beliaulah teladan kita. Segala sunnah/adatnya pantas kita tiru. Sejak bangun tidur, hingga tidur kembali. Sesiapa yang mengikuti sunnahnya, dia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Sedangkan orang-orang yang meremehkannya, dia telah melewatkan bagian besar kebaikan.

Sahabat, marilah kita gali dan temukan mutiara indah dari untaian kata-kata yang mengalir dari lisan qudwah kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hikmah itu dapat kita temukan dalam lafadznya, maknanya, maupun dalam hal lainnya. Maka lihatlah contohnya.

1. Kecerdasan Menjawab Pertanyaan

Suatu hari seorang sahabat nabi pulang dari perjalanan. Hatinya masih terganjal suatu perkara. Ada kebimbangan tentang keabsahan sholatnya di lautan. Begitu, karena dia berwudhu dengan air laut. Persediaan air tawarnya sedikit. Ditakutkan kekurangan minum jika digunakannya untuk wudhu. Maka ia menanyakan perkara tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bertanya, bolehkah berwudhu dengan air laut.

Kemudian, rasul menjawab, “Dia (laut) suci airnya, halal bangkainya”.

Masya Allah, inilah jawaban yang luar biasa. Jikalau tidak istimewa, yang ditanya hanya akan menjawab, “boleh”. Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban lain. Dengan jawaban itu, bukan hanya penanya merasa puas. Jawaban itu tak hanya menghapus rasa penasaran penanya. Akan tetapi, dengan jawaban ampuh tersebut, sebuah hukum terungkap. 1) Dengan jawaban itu orang-orang tahu bahwa air laut itu suci. Artinya dapat digunakan untuk thoharoh. Bukan hanya wudhu, tetapi termasuk mandi, dan thoharoh lainnya. 2) Dengan kalimat itu pula seseorang mengetahui hukum bangkai hewan lautan. Padahal tidak ada yang menanyakannya.

Artinya, jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dapat menuntaskan banyak pertanyaan yang mungkin timbul. Cukup dengan satu kalimat. Dengan kalimat itu, tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga menyampaikan ilmu tentang hukum air laut dan bangkainya. Inilah suatu kecerdasan mengelola kata-kata secara efektif.

2. Targhib dan Tarhib

Kalau kita perhatikan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan suatu hal, kecuali dengan menyebutkan pula keuntungannya. Jadi suatu perintah diikuti iming-iming untuk yang melaksanakannya. Sebaliknya, biasanya suatu larangan diikuti dengan keterangan kerugian. Jadi, suatu larangan diikuti ancaman bagi yang melanggarnya. Inilah contoh-contohnya.

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” (Muttafaq Alaihi).

Dari Abu Umamah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Bacalah olehmu semua akan al-Quran itu, sebab al-Quran itu akan datang pada hari kiamat sebagai sesuatu yang dapat memberikan syafaat – yakni pertolongan – kepada orang-orang yang mempunyainya.” (HR. Muslim)

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi). (HR. Muslim No.4638)

Di antara penyebab seseorang bisa sabar menjalani kebaikan adalah dengan mengetahui keuntungan mengamalkannya. Jadi, seseorang yang mendapat perintah merasa lebih mantap melaksanakannya jika mengetahui keuntungan perbuatan tersebut. Begitu pula sebaliknya, seseorang bisa sabar menjauhi larangan jika tahu akibat buruk pelanggarannya. (buka QS. Al-Kahfi ayat 68).

3. Penggunaan Majas Retoris

Ketika berdiskusi dengan para sahabat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering menggunakan majas retoris. Rasul menggunakan pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Berikut contohnya.

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, engkau semua tidak dapat masuk syurga sehingga engkau semua beriman dan engkau semua belum disebut beriman sehingga engkau semua saling cinta-mencintai. Sukakah engkau saya beri petunjuk pada sesuatu yang apabila itu engkau semua lakukan, maka engkau semua dapat saling cinta-mencintai? Sebarkanlah ucapan salam antara engkau semua.” (HR. Muslim).

Dari Abu Dzar radhiallahuanhu : Sesungguhnya sejumlah orang dari shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam: “ Wahai Rasululullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala yang banyak, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedang kami tidak dapat melakukannya). (Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam) bersabda : Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian jalan untuk bersedekah ? : Sesungguhnya setiap tashbih merupakan sedekah, setiap takbir merupakan Sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, amar ma’ruf nahi munkar merupakan sedekah dan setiap kemaluan kalian merupakan sedekah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah masakah dikatakan berpahala seseorang diantara kami yang menyalurkan syahwatnya ?, beliau bersabda : Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan dijalan yang haram, bukankah baginya dosa?, demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada jalan yang halal, maka baginya mendapatkan pahala. (HR. Muslim).

Di hadits pertama, sebenarnya Rasul bisa saja mengucapkan, “Aku akan memberi tahu kalian sesuatu yang apabila itu engkau semua lakukan, maka engkau semua dapat saling cinta-mencintai.” Akan tetapi di hadits di atas Rasul menggunakan majas retoris. Dengan demikian, pendengar menjadi lebih tertarik mengikuti pembicaraan. Penggunaan majas retoris dapat mencairkan suasana forum.

Begitu pula pada hadits kedua. Gaya bicara retoris menghindarkan kesan kaku dan monoton.

4. Motivator Hebat

Tentu rasanya berbeda, jika seseorang berkata kepada kita, “Jadilah orang yang baik!” dengan orang lain yang berbicara, “Jadilah orang yang terbaik!”

Akhi/ukhti, perhatikanlah beberapa hadits nabi. Niscaya kau dapatkan sebuah contoh ampuh pembakar semangat.

Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesempurna-sempurnanya kaum mu’minin dalam hal keimanannya ialah yang terbaik budipekertinya di antara mereka itu sedang orang-orang yang pilihan di antara engkau semua itu ialah yang terbaik hubungan – pergaulannya – dengan isteri-isterinya.” (HR. Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa Hadis ini adalah hasan shahih).

Dari Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu bukan seorang yang kotor – baik kata-katanya atau tindakannya – dan tidak pula seorang yang bersengaja hendak berbuat kekotoran – baik kata-kata atau tindakannya.” Beliau s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya termasuk dalam golongan orang-orang yang terpilih di antara engkau semua adalah orang yang terbaik budipekertinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadis riwayat Imran bin Hushain ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kamu ialah yang hidup pada zaman kurunku (sahabat), kemudian orang-orang yang hidup sesudah kurunku (tabiin), kemudian orang-orang yang hidup sesudah mereka (tabiit tabiin), kemudian orang-orang yang hidup sesudah mereka. Imran berkata: Aku tidak tahu apakah Rasulullah saw. mengatakan setelah kurun beliau dua kali atau tiga kali. Kemudian setelah mereka akan datang suatu kaum yang memberikan kesaksian sedangkan mereka tidak dimintai kesaksian, dan mereka berkhianat sehingga tidak dapat dipercaya, mereka selalu bernazar namun tidak pernah memenuhinya dan akan tampak pada mereka kegemukan. (HR. Muslim No.4603)

Diksi yang tepat dapat menjadi pembakar semangat.

Contoh menarik lainnya:

Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengambil pedangnya pada hari perang Uhud, kemudian bersabda: “Siapakah yang suka mengambil pedang ini daripadaku?” Orang-orang sama mengacungkan tangannya masing-masing, yakni setiap orang dari sahabat-sahabat itu berbuat demikian sambil berkata: “Saya, saya.” Beliau berkata lagi: “Siapakah yang dapat mengambilnya dengan menunaikan haknya?” Orang-orang semuanya berdiam diri. Selanjutnya Abu Dujanah – namanya sendiri Simak bin Kharsah – berkata: “Saya dapat mengambil pedang itu dengan menunaikan haknya.” Pedang itu lalu digunakan oleh Abu Dujanah untuk memenggal kepala-kepala kaum musyrikin.” (HR. Muslim)

Jika kita cermati, kalimat siapakah di antara kalian memiliki sensasi berbeda dengan kalimat adakah di antara kalian. Jika seseorang mendengar pertanyaan siapa di antara kalian, dan dia merasa memenuhi syarat dia akan segera mengacungkan tangan lalu mengucap “aku”. Saat itu muncullah motivasi spontan dari dalam dirinya. Sedangkan jika ia mendengar pertanyaan adakah di antara kalian, awalnya dia sekedar menjawab ada atau tiada. Kalimat itu tidak dapat membakar semangat.

5. Permisalan yang Memudahkan

Dengan membuat perumpamaan, seorang pengajar lebih mudah memahamkan muridnya terhadap suatu persoalan rumit dengan cara pikir sederhana dan mudah dipahami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mempraktekkan hal ini.

Dari Sahl bin Sa’ad r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam syurga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan antara keduanya itu.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Perumpamaan orang mu’min yang suka membaca al-Quran ialah seperti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanyapun enak dan perumpamaan orang mu’min yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Quran ialah seperti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Musa r.a. juga, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan dari petunjuk dan ilmu yang dengannya saya diutus oleh Allah itu adalah seperti hujan yang mengenai bumi. Di antara bumi itu ada bagian yang baik,yaitu dapat menerima air, kemudian dapat pula menumbuhkan rumput dan lalang yang banyak sekali, tetapi di antara bumi itu ada pula yang gersang, menahan masuknya air dan selanjutnya dengan air yang tertahan itu Allah lalu memberikan kemanfaatan kepada para manusia, karena mereka dapat minum daripadanya, dapat menyiram dan menanam. Ada pula hujan itu mengenai bagian bumi yang lain, yang ini hanyalah merupakan tanah rata lagi licin. Bagian bumi ini tentulah tidak dapat menahan air dan tidak pula dapat menumbuhkan rumput. Jadi yang sedemikian itu adalah contohnya orang yang pandai dalam agama Allah dan petunjuk serta ilmu yang dengannya itu saya diutus, dapat pula memberikan kemanfaatan kepada orang tadi. Maka orang itupun mengetahuinya – mempelajarinya, kemudian mengajarkannya – yang ini diumpamakan bumi yang dapat menerima air atau dapat menahan air, dan itu pulalah contohnya orang yang tidak suka mengangkat kepala untuk menerima petunjuk dan ilmu tersebut. Jadi ia enggan menerima petunjuk Allah yang dengannya itu saya dirasulkan – ini contohnya bumi yang rata dan licin.” (Muttafaq ‘alaih)

6. Contoh yang Kontradiktif

Kita sudah biasa diberi pengajaran dengan pemberian contoh yang kontradiktif. Pemberian dua contoh yang sangat berbeda dapat memudahkan pemahaman. Misalnya, ketika kecil guru mengajari kita, “binatang kecil adalah semut, binatang besar adalah gajah”. Dengan ilustrasi tersebut, kita lebih paham tentang makna besar dan kecil. Nah, dengan dua contoh yang kontradiktif kita bisa memahami persoalan secara menyeluruh. Selain itu, dengan dua contoh yang saling berlawanan – jika terkait baik dan buruk – , kita lebih termotivasi untuk memilih yang baik di antara keduanya dan lebih takut melakukan yang buruk di antara keduanya.

“Barangsiapa mencontohkan suatu contoh kebaikan, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengamalkannya (menirunya) tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Sedangkan orang yang mengajarkan suatu dosa, maka dia mendapat dosa orang yang mengamalkannya (menirunya).” (HR. Muslim)

Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Perumpamaan orang mu’min yang suka membaca al-Quran ialah seperti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanyapun enak dan perumpamaan orang mu’min yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Quran ialah seperti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit.” (Muttafaq ‘alaih)

7. Penggunaan Bahasa Isyarat

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Kamu sekalian, satu sama lain Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi dan janganlah membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Taqwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliau tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya”. (HR. Muslim no. 2564).

Dari Sahl bin Sa’ad r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam syurga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan antara keduanya itu.” (HR. Bukhari).

Ketika seorang pembicara menggunakan bahasa isyarat, sejatinya dia menarik perhatian audien. Demikian, karena dengan adanya bahasa isyarat, hadirin tertarik melihat isyarat tersebut. Selain itu, penggunaan bahasa isyarat yang merupakan salah satu bentuk ekspresi dapat menguatkan/mempertajam kesan dari pesan yang disampaikan.

Kesimpulan

Inilah beberapa hikmah yang dapat kita petik dari gaya bicara teladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu masih banyak hikmah yang perlu kita gali. Jika kita dapat menangkap kebaikan darinya, tentu kita layak mencontohnya. Tujuannya, agar dakwah kita mudah diterima dan agar kita dapat menyampaikan kebenaran dengan cara terbaik.

Jika ada kekurangan pada tulisan ini, hal itu karena keterbatasan ilmu penulis. Kebenaran datang dari Allah Ta’ala.

Walhamdulillahirabbil’alamin

azharblog88.wordpress.com

Apa tanggapan antum?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s