Ustadz Maulana: Dai Keliling Penjaga Moral Jogjakarta

Kita membutuhkan sosok yang bisa menjadi teladan bagi masyarakat. Begitu pula dengan agama kita, dibutuhkan orang yang berkomitmen menerapkan Islam dalam setiap aspek kehidupan. Mendedikasikan dirinya untuk dakwah. Menjadi sosok yang berdiri di garda terdepan perubahan umat. Pribadi seperti itu bisa kita temukan pada diri seorang Maulana, yang mendaulatkan dirinya sebagai dai keliling, yang mempersembahkan seluruh nafas kehidupannya untuk menegakkan kalimatullah.

Aktivitasnya sederhana tapi sangat bermakna. Mulai dari berjualan majalah-majalah Islam, mengikuti kajian-kajian yang diselenggarakan di masjid-masjid seputar Universitas Gadjah Mada (UGM), membagikan selebaran yang ia dapatkan dari forum kajian, sampai menegur sepasang muda-mudi non-muhrim yang beliau jumpai. Semua ini beliau jalani sejak menginjakkan kaki pertama kali di UGM pada 2001.

Majalah yang ia jual sebagian besar adalah majalah Fatwa, majalah yang menurutnya melampaui zaman, tidak terikat waktu, dan bisa diaplikasikan kapan pun karena isinya bukan isu-isu responsif. Majalah-majalah itu adalah majalah lama yang dijualnya dengan harga berkisar Rp 3.000 sampai Rp 7.500. Tak seberapa memang pendapatannya, tapi itulah pintu rezeki yang ia tekuni saat ini. “Mencari nafkah sekaligus menyebar kebaikan,” ucapnya.

Sistem penjualan yang ia terapkan yaitu menjajakan pada para pengunjung masjid, atau hanya sekadar menggelar jualannya dengan menyediakan kotak infaq di sampingnya. Uang yang didapatkan dipergunakan untuk mensirkulasikan kembali dagangannya.

Di mana ada kajian, di situ pulalah kita jumpai sosoknya yang sederhana. Bergamis putih, sarung kotak-kotak, dan kopiah yang menghiasi kepalanya. Meski ia tidak mempunyai kendaraan, sejauh apapun kajian itu akan ia ikuti tanpa memilih kajian itu diselenggarakan oleh golongan apa.

Selama itu adalah ilmu yang bermanfaat, maka akan ia ikuti.

“Saya ini dai keliling, bukan dai golongan tertentu,” katanya.

Kemudian selebaran ilmu yang didapatkan akan ia sebarkan kepada orang-orang yang dijumpainya. Berkerudung lebar atau pun dengan rambut tergerai. Berbaju koko atau pun berkaos oblong. Semuanya harus mendapatkan siraman cahaya dakwah, prinsipnya.

Dakwah lain yang beliau tekuni adalah menyambangi muda-mudi non-muhrim ataupun kemaksiatan lain yang ia jumpai, tentu membutuhkan mental dan keistiqamahan yang tinggi. Khusus aktivitas beliau ini, dua puluh empat jam akan ia lakukan. Siang berganti malam bukan menjadi halangan. Metode yang dilakukan adalah terjun langsung ke medan dakwah dan mengatakannya secara terang-terangan. Ia menegur sepasang muda-muda yang ia jumpai, hal-hal yang ia tanyakan adalah apakah mereka seorang muslim, sudah menikah atau belum, dan terakhir apakah mereka muhrim atau bukan. Jika bukan, orang yang bersangkutan akan mendapat ceramah singkat yang beliau sampaikan. Dan terakhir adalah tidak memperbolehkan mereka pulang dengan berboncengan. Reaksi dari laki-laki tersebut tidak rela kalau pacarnya harus jalan kaki. “Lebih baik sengsara di dunia daripada disiksa di akhirat. Kalau tidak mau perempuan yang jalan, ya kamu yang jalan,” tambahnya dengan nada ringan.

Tak jarang pula objek dakwahnya tidak bisa menerima teguran yang ia lontarkan. Caci maki, lemparan botol minuman keras, dipukul, bahkan dikeroyok oleh sejumlah orang tak menyurutkan langkah dakwahnya. Menanggapi perlakuan buruk itu, ia hanya tersenyum dan mengatakan, “Inilah jalan dakwah.”

Para aktivis dakwah Jama’ah Shalahuddin (JS) pun sering dilibatkan dalam perjalanan dakwahnya. Seperti ketika ia melihat ada perempuan yang memakai baju tak berlengan memasuki wilayah masjid kampus UGM, ia meminta pada akhwat JS untuk memberikan pada perempuan itu kerudung atau pun mukena untuk menutupi auratnya. Sedangkan para ikhwannya sering beliau ajak dalam inspeksi mendadak yang beliau jalankan di malam hari. Surga itu terlalu luas untuk dihuni seorang diri.

Terlepas dari kegiatannya di atas, ia juga termasuk orang yang mudah bergaul dan peka terhadap lingkungan. Menyapa orang-orang yang dijumpainya, satpam yang sedang bertugas, pedagang, tukang becak, bahkan mahasiswa yang biasanya dilanjutkan dengan nasihat sebagai bekal bagi penerus bangsa. Ketika beliau melihat orang yang sedang mencuci mobil, beliau menegurnya karena air yang terpakai membanjiri jalanan sehingga terbuang sia-sia. Harapannya ketika mencuci mobil lebih efektif dalam pemanfaatan air, karena masih banyak orang di daerah lain yang kesulitan mendapatkan pasokan air. Ketika gempa melanda Kota Padang, dengan sigap beliau pun pergi dengan rombongan relawan membantu para korban gempa, khususnya agar mereka tidak terjebak pada jejaring Kristenisasi pasca-bencana.

Banyak orang yang tahu dan lebih paham dari padanya mengenai kebenaran, tapi terkadang tanpa disertai aksi nyata menegur pada yang menyimpang. Sedangkan beliau dengan beraninya menyampaikan kebenaran apapun resikonya. “Menjadi yang terbaik bukanlah pilihan, tapi kewajiban,” tegasnya. Terbaik di hadapan Allah, di hadapan manusia, juga alam sekitar. Saat kita melakukan yang terbaik, maka sekeliling kita pun akan berbuat yang terbaik pada kita, terlebih Allah yang menggenggam waktu dan jiwa kita semua.

http://www.sabili.co.id/index.php?op…kur&Itemid=163

dikutip dari myquran.com

Artikel Lainnya:

Sahabat Nabi Perawi Hadits Terbanyak
Keluarga Muslim Palestina Dipaksa Masuk Yahudi di Yerusalem!
Misi Penghancuran Akhlak Lewat TV
Bioskop di Jakarta Pun Dulu Pisahkan Pria dan Wanita
!!!FACEBOOK:’Selamat’! Data Dirimu Terbang ke Israel

Apa tanggapan antum?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s